Sahabatku, Sally

Kupersembahkan untuk sahabatku
Untuk Keluarga Assensix, seluruh sahabat yang kurindukan
Sahabat Canteen, Bikini Bottom Family, dan Trio Bejat-ku
Sahabatku, Fairy
Keluarga Naruto-Indo yang tercinta
Dan yang menyemangati dalam menulis, Zhella Tatipikalawan


---------------------------------



Aku menceritakan sebuah kisah tentang sahabat, sebuah kisah akan berharganya sebuah sahabat yang begitu baik hati. Namanya adalah Sally, sahabat terbaikku. Kami selalu bersama sejak pertemuan kami saat SMP. Anaknya selalu baik, ceria, penuh semangat dan juga ramah. Tidak heran, saat SMA dia memiliki banyak teman. Kalau bersamanya, hidup terasa penuh warna. Dia tempat yang baik jika diajak curhat, jika aku sedang dalam masalah. Dia punya banyak cara yang bisa membuatku kembali semangat dan melupakan kesedihanku. Jika melihatnya, kalian akan menganggapnya malaikat tak bersayap.

Tapi, entah sejak kapan, dia terlihat berbeda saat aku bertemu dengannya di sekolah. Wajahnya terlihat pucat. Aku bertanya padanya, apa dia sakit atau dia sedang punya masalah. Tapi dia hanya menggeleng dan berkata “Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja.” Senyumnya masih menghiasi wajahnya. Dia masih semangat dan ceria seperti biasanya. Dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tahu itu, tapi tidak biasanya Sally menyembunyikan masalah dariku. Kami selalu menceritakan masalah yang kami alami, dan saling member semangat. Tapi, melihat keceriaannya, aku menghapus kecurigaanku.

Tapi, hari demi hari wajahnya semakin pucat, dan tidak semangat seperti dulu. Teman-teman yang lain menyadarinya dan bertanya padanya. Tapi lagi-lagi dia hanya membalas dengan menggeleng dan berkata “Aku baik-baik saja”. Mereka beralih bertanya padaku, karena aku selalu bersamanya. Tapi aku hanya bisa menggeleng. Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa, Sally tidak pernah menceritakannya padaku. Aku sendiri merasa aneh. Aku khawatir padanya, tapi dia tidak pernah becerita. Aku bertanya padanya, tapi dia hanya menunduk dan berkata “Maaf”. Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi padanya, dan hanya menunggunya untuk mengatakannya sendiri kepadaku.

Suatu hari pertanyaanku terjawab sudah. Saat pulang sekolah, kami berjalan pulang ke rumah. Kebetulan rumah kami tidak begitu jauh dari sekolah. Aku memperhatikannya, langkahnya sempoyongan. Aku menyuruhnya untuk beristirahat. Rumah kami masih cukup jauh. Saat kami hendak berjalan menghampiri pinggir trotoar, Sally kehilangan kesadarannya. Aku terpekik, dan segera menahan tubuhnya untuk tidak menghantam tanah. Aku begitu panik. Wajahnya semakin pucat. Aku berteriak, meminta tolong. Dan segera saja orang-orang membawanya ke rumah sakit.

Di rumah sakit, aku segera menelepon kedua orang tuanya. Aku terus berjalan mondar-mandir, gelisah memikirkan Sally, sahabatku yang kini sedang terbaring tidak sadarkan diri. Tidak lama kemudian, kedua orang tuanya datang dengan langkah yang terburu-buru. Air mata ibunya mengalir deras, sementara wajah ayah Sally terlihat begitu khawatir.

“Bagaimana dengan Sally, nak.” Tanya ibunya terisak. Air matanya masih terus berjatuh dari matanya yang mulai memerah.

"Dia ada di dalam, tante.” Jawabku.

Keduanya bergegas masuk. Aku menyusulnya. Kulihat Sally sudah sadar dan masih terbaring di tempat tidur berselimut hijau itu. Ibunya terus terisak. Sementara Sally, dia mendudukkan badannya lalu tersenyum, dan berkata “Aku baik-baik saja, bu.” Untuk menenangkan ibunya yang masih terus terisak. Sally sadar aku berada di sana. Dia tersenyum, dan aku balas senyumannya. Dia menggerakkan mulutnya, dan dengan tidak bersuara, berbicara padaku “Terima kasih, aku baik-baik saja.” Saat itu, seorang pria dengan jas dokter masuk ke dalam ruangan.

“Apa anda keluarganya?” tanyanya, dan kedua orang tuanya mengangguk.

“Bisakah kita berbicara di luar sebentar?” Ujarnya lagi, dan segera keluar. Kedua orang tua Sally mengikutnya. Aku yang penasaran segera mendekat ke arah pintu, menguping pembicaraan mereka.

“Bagaimana keaadan anak saya, dok?” Suara ayah Sally terdengar khawatir.

“Maaf, kanker hati yang dideritanya semakin parah.” Ibunya semakin terisak, suara tangisannya terdengar semakin keras. Kanker? Aku begitu terkejut. Sally mengidap penyakit kanker? Kenapa dia tidak pernah cerita kepadaku. “Dan dia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.” Tangisan ibunya semakin keras. Tangisannya begitu pilu terdengar menggema di koridor rumah sakit. Aku sendiri begitu shock. Aku hanya mematung, berdiri di tempatku, tidak mempercayai apa yang barusan ku dengar.

Aku berbalik, masih dengan wajahku yang masih shock. Aku lihat dia mulai menangis di tempat tidurnya. Kurasa dia tahu apa yang sedang terjadi padanya, dari tangisan ibunya yang terdengar begitu pilu. Aku merasakan kakiku seperti tidak memiliki tulang di dalamnya. Kakiku terasa begitu lemas. Ku hampiri dia perlahan. Aku sudah tidak bisa menahan air mataku, dan saat itu juga aku langsung menangis, menghampirinya. Kami berdua menangis.

“Kenapa? Kenapa… kau tidak pernah menceritakannya?” tanyaku. Suaraku bergetar hebat. Sally masih terisak.

“Aku tidak ingin membuatmu khawatir.” Dia menjawab dengan terisak.

Aku segera memeluknya. Memeluknya dengan erat. Dia membalas pelukanku. Kami terus berpelukan dengan erat, dan menangis bersama-sama.

“Maaf…” Ujarnya dalam pelukan kami. Suaranya bergetar, dan air matanya masih mengalir deras. Aku masih memeluknya, dan terus menangis. Air mataku tidak bisa berhenti keluar. Dia sahabat baikku, orang yang begitu baik, tapi kenapa harus mengalami hal seperti ini? Sally masih terus berkata maaf padaku. Dan kami masih berpelukan. Sekali lagi, dia membuka mulutnya, menggerakkan bibirnya yang masih bergetar karena menangis.

“Maaf”


To Be Continued... ^^